Meningkatkan Mobilitas Lansia dengan Terapi Manipulasi Tulang Belakang
Banyak orang dewasa yang lebih tua mengalami kelemahan otot, tetapi Anda tidak perlu mengalaminya.
Low back pain (LBP) menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling umum di kalangan lanjut usia, yang menyebabkan rasa sakit sehingga sulit melakukan aktivitas (Segita, 2020). Hasil penelitian menunjukkan risiko lansia mengalami LBP cenderung mengalami peningkatan seiring pertambahan umur. Kecenderungan ini serupa dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Shokri et al., (2023) bahwa risiko LBP meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Seiring
Seiring dengan proses penuaan, struktur tulang termasuk tulang belakang akan mengalami degenerasi dan kehilangan kepadatan. Proses penuaan juga menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan otot dan elastisitas jaringan ikat khususnya di sekitar tulang belakang. Perubahan pada tulang, otot dan jaringat ikat menyebabkan kestabilan sendi menjadi berkurang sehingga rentan mengalami gangguan dan kerusakan yang dapat menimbulkan nyeri ((Zuniwati, 2021; Putu & Nesa, 2023).
Lansia perempuan
Lansia perempuan lebih berisiko mengalami LBP dibandingkan dengan laki-laki. Faktor hormonal, anatomi, dan biopsikososial diduga menjadi penyebab perbedaan ini. Perempuan yang memiliki kadar estrogen yang rendah, dapat menyebabkan melemahnya ligamen dan otot di sekitar tulang belakang, sehingga meningkatkan risiko LBP. Selain itu, secara anatomis perempuan memiliki pelvis yang lebih lebar dan rongga panggul yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Struktur tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang bagian bawah (Pang et al., 2023).
Klasifikasi berat
Klasifikasi berat badan berdasarkan indeks masa tubuh, diantaranya: kurus (< 18,5), normal (18,5 - <24.9), berat badan lebih (25,0 - <27), dan obesitas (27,0) (Kemenkes, 2021). Berat badan sampel penelitian sebagian besar berada pada kategori normal (40%). Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor risiko LBP. Obesitas memiliki risiko 2 kali lebih besar mengalami LBP dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal. Hal ini diduga karena berat badan berlebih memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang bagian bawah, yang dapat menyebabkan peradangan dan nyeri. Selain itu, obesitas juga dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi tulang belakang, yang dapat meningkatkan risiko LBP (Chou et al., 2016).
Faktor risiko LBP
Meskipun berat badan termasuk faktor risiko LBP, namun terdapat banyak faktor lain yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut, seperti: postur yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan cidera. Oleh karena itu, LBP tidak selalu identik dengan berat badan berlebih (Shiri et al., 2019). Postur yang buruk secara berulang saat beraktivitas justru dapat meningkatkan peluang terjadinya LBP dan semakin bertambah bilamana dikombinasikan dengan faktor risiko LBP lainnya (Mahfud et al., 2022).
Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau potensi kerusakan di sistem tubuh (Raja, 2020). Keluhan utama pasien LBP adalah nyeri pada punggung bawah. Keluhan nyeri tersebut disebabkan karena adanya ketegangan-ketegangan otot yang terdapat di dalamnya dikarenakan berbagai aktivitas tubuh yang kurang baik (Susanti, 2019). Hasil studi Segita (2020) menunjukkan bahwa kesalahan postur tubuh saat beraktivitas atau bekerja dapat mencetus LBP hingga 38%. Stimulus nyeri yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya perubahan sensitisasi saraf perifer dan sentral yang mengubah nyeri akut menjadi nyeri kronis.
Sensitisasi sentral
Sensitisasi sentral ditandai dengan peningkatan respons neuron dalam sistem saraf pusat, sehingga input yang seharusnya tidak menimbulkan nyeri dapat menghasilkan respons yang abnormal. Sensitisasi perifer dan sentral memainkan peran kunci dalam mekanisme nyeri kronis pada LBP. Dampaknya perubahan kecil dalam postur yang tidak ergonomis dapat dengan mudah menyebabkan peradangan jangka panjang pada sendi, ligamen, dan otot yang terlibat dalam stabilitas area punggung bawah. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap pembatasan gerak guna menghindari timbulnya nyeri (Allegri et al., 2016).
Minimnya gerak
Minimnya gerak dapat berpengaruh buruk terhadap kekuatan otot, kepadatan tulang dan kestabilan sendi yang justru dapat meningkatkan keluhan LBP dan mempengaruhi kemampuan dalam melakukan aktivitas fungsional (Zuniwati, 2021). Mobilitas melibatkan kemampuan seseorang untuk berjalan, berlari, berdiri, atau melakukan gerakan lainnya secara efisien dan tanpa hambatan.
Mobilitas
Mobilitas menjadi kunci kemampuan individu untuk bergerak dengan lancar dan melakukan tugas-tugas sehari-hari dengan mudah (Garcia, 2021). Lansia sering menghadapi tantangan dalam mobilitas. Penurunan kemampuan mobilitas pada lansia merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan beberapa faktor seperti: penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, penurunan keseimbangan dan penyakit / gangguan kesehatan. Keterbatasan mobilitas dapat menghambat kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas fungsional sehari-hari (Johnson, 2019).
Lansia dengan kondisi LBP
Lansia dengan kondisi LBP mengalami gangguan mobilitas yang signifikan. Rasa sakit yang berkepanjangan dan berat akibat LBP dapat membuat lansia enggan atau takut untuk bergerak atau melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini menyebabkan lansia mengalami kelemahan otot lebih masif yang menyebabkannya kesulitan dalam mempertahankan postur yang baik saat berjalan atau berdiri sehingga lansia membatasi mobilitas mereka (Hasanah, 2018).
Berlanjut Keadaan
Bilamana keadaan ini berlanjut, maka akan memperburuk kondisi kesehatan lansia dan dapat berpotensi menyebabkan ketergantungannya pada orang lain dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (Garcia, 2021). Salah satu strategi dalam mengurangi tingkat nyeri pada lansia dengan masalah LBP adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip proper body mechanics (PBM). Proper Body Mechanics didesain untuk mengurangi keluhan muskuloskeletal yang sering terjadi akibat kesalahan posisi tubuh saat melakukan aktivitas (Yusoff et al., 2019).
Pengetahuan tentang LBP
Prinsip yang berfokus pada peningkatan pengetahuan tentang LBP, pengaturan postur tubuh yang baik (ergonomis) saat beraktivitas dan mengadopsi teknik aktivitas yang benar, dapat mengurangi nyeri yang dirasakan oleh lansia dengan masalah LBP (Putu & Nesa, 2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia mengalami penurunan tingkat nyeri dengan mayoritas lansia mengalami nyeri berat sebanyak 56,7%, menjadi nyeri sedang sebesar 60% setelah menerapkan PBM.
Body Mechanics
Proper Body Mechanics mengarahkan atau mengkondisikan penggunaan postur tubuh yang tepat saat melakukan aktivitas sehari-hari, baik saat duduk, berdiri, dan mengangkat benda. Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan pada sendi dan otot, sehingga mengurangi risiko nyeri dan cidera (Toraman et al., 2014; Rosdiana & Wirastuti, 2024). Keterbatasan mobilitas pada lansia yang mengalami LBP, disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang cenderung meningkat saat bergerak atau melakukan aktivitas (Salsabilla et al., 2023).
Setelah penerapan PBM
Setelah penerapan PBM, keluhan nyeri oleh lansia menurun secara signifikan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nyeri tersebut disertai peningkatan kemampuan mobilitas lansia hingga mencapai tingkat kemampuan mobilitas yang tinggi (76,7%). Koreksi posisi tubuh saat beraktivitas akan mengurangi keluhan muskuloskeletal dan memperbaiki kondisi tubuh sehingga mampu bergerak dengan bebas dan optimal (Yusoff et al., 2019). Penerapan PBM pada lansia dapat meningkatkan kekuatan otot yang lebih besar dan mengoptimalkan stabilitas tulang belakang serta sendi, sehingga dapat mendukung gerakan yang lebih kuat dan stabil yang dibutuhkan saat melakukan mobilitas.
Penerapan PBM
Selain itu, penerapan PBM bermanfaat untuk mendistribusikan berat tubuh secara merata, mengurangi tekanan pada area tubuh yang rentan seperti lutut dan punggung, sehingga memperbaiki kemampuan mobilitas lansia secara keseluruhan (Johnson, 2019; Billot et al., 2020). Oleh karena itu penerapan PBM dapat. menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kemampuan mobilitas lansia dengan kondisi LBP. penting dalam menjaga kualitas hidup dan kemandirian seseorang. Mobilitas melibatkan
What's Your Reaction?